Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Tampilkan postingan dengan label Islamic Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamic Parenting. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 November 2010

Menghindari Kesalahan Memotivasi


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Kalau boleh, saya ingin mengatakan bahwa setiap ibu mendambakan anak-anaknya menjadi manusia yang berguna sesuai harapan orangtua.

Naluri setiap ibu menyayangi dan mendidik anak-anaknya agar kelak tidak saja berhasil bagi dirinya sendiri, tetapi sekaligus membahagiakan orangtua, tetangga dan masyarakat.

Keberhasilan anak dalam meniti hidupnya adalah keberhasilan orangtua, terutama ibu. Karena perjalanan anak banyak ditentukan oleh pendidikan yang diberikan oleh ibu selama masa-masa perkembangan.

Didorong oleh rasa sayangnya kepada anak, seorang ibu banyak tampil memotivasi anak. Tindakan ini bagus. Anak yang berhasil, seringkali lahir justru bukan dari banyaknya fasilitas yang dimiliki. Lebih penting dari itu, motivasi tinggilah yang banyak memberi sumbangan pada semangat anak demi berusaha dan menyikapi “kesulitan-kesulitan“ yang dialami.

Tetapi…

Ada tetapinya!

Keinginan ibu untuk memotivasi anak tidak jarang menghadapi benturan karena kesalahan-kesalahan “kecil”. Tindakan memotivasi justru menjadi bumerang. Alhasil, kemauan berprestasi anak malah lemah dan prestasinya rendah.

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan ketika memotivasi anak, yaitu:

1. Membuat Anak Merasa Bersalah

Sebagian ibu menganggap bahwa dengan menimbulkan rasa bersalah, anak akan terpacu untuk memperbaiki diri. Anak akan bersemangat untuk meraih apa yang diharapkan oleh orangtua. Tetapi kenyataannya seringkali justru sebaliknya. Anak menjadi rendah diri. Tidak mempunyai percaya diri. Dalam jangka panjang, ini melemahkan kemampuan anak dalam menyesuaikan diri maupun dalam mengembangkan kecakapan intelektual dan keterampilan kerja.

“Motivasi” yang justru menimbulkan rasa bersalah pada anak, misalnya, “Kamu sayang sama Mama, nggak? Sayang, nggak?”

“Sayang, Ma,” kata Reza. Selebihnya Reza hanya diam.

“Makanya, kalau sayang sama Mama, belajar yang baik,” kata Mama.

Rasa bersalah juga muncul ketika ibu mengatakan, “Ibu tiap hari kerja keras untuk kamu. Kalau kamu kasihan sama Ibu, kamu harus belajar. Kamu harus mendapat ranking satu. Lihat itu, Bapak tiap hari pulang sore. Cari duit itu sulit.”

2. Menjadikan Anak Merasa Anda Tidak Menganggapnya Cukup Pandai

Dody pulang sekolah. Begitu tiba, ibu langsung menanyai tentang pelajaran apa yang diterimanya tadi. Tak lupa menanyakan ulangan.

Ini dia awal kesulitan Dody. Hari itu ada ulangan Matematika. Dia mendapat nilai 7.

Sebenarnya nilai yang bagus untuk Matematika. Tapi Dody tahu, kalau mengatakan yang sebenarnya, ia akan menghadapi risiko diomeli ibu. Tapi kalau berbohong, Dody ingat itu mendatangkan dosa.

Akhirnya Dody menunjukkan kertas hasil ulangan. Seperti diduga, ibunya segera berkomentar, “Aduh Dody. Masak berhitung begini kamu nggak bisa sih? Ini kan mudah, toh! Coba lihat itu Mas Iwan, pintar dia.”

Dody kecewa. Ia sudah mendapat nilai lebih tinggi dari kebanyakan temannya, tapi tetap tidak mendapatkan penghargaan dari orangtua. Ibu menganggapnya tidak cukup pandai.

Mental anak sangat terpukul. Ungkapan ibu semacam ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri. Pada gilirannya, anak mudah merasa putus asa.

Anak juga merasa dirinya bodoh. Karena merasa bodoh, ia cenderung tidak mau belajar. Ia banyak melakukan hal-hal yang kurang meningkatkan kecerdasan. Sehingga, akhirnya ia mendapati benar-benar bodoh di sekolah. Inilah yang disebut self-fulfiling prophecy (nubuwah yang dipenuhi sendiri).

Memotivasi dengan bentuk-bentuk ungkapan semacam itu justru bisa membodohkan anak. Ungkapan yang dimaksudkan oleh ibu untuk membangkitkan potensi anak, sebenarnya justru merusak potensi yang besar.

Seharusnya, ibu tetap menunjukkan kehangatan. Bahkan ketika anak mendapat nilai jelek pun, ibu perlu memberikan kehangatan dan penerimaan. Sikap yang demikian akan menimbulkan rasa aman dan perasaan diterima pada diri anak, sehigga ia akan bersemangat untuk mencapai yang lebih di saat berikutnya tanpa perasaan tertekan dan terbebani.

Sementara kalau anak mencapai prestasi yang memuaskan, seperti yang dicapai oleh Dody misalnya, ibu perlu menunjukkan sikap menghargai. Ibu memberikan penghargaan dan pujian yang memadai. Tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu kikir memuji.

3. Menghancurkan Harga Diri Anak

Anda sangat tidak menyukai kalau keburukan Anda atau hal-hal yang Anda anggap sebagai wilayah pribadi diungkapkan kepada orang lain. Apalagi jika yang mengungkapkan rahasia pribadi Anda itu adalah orang yang paling dekat, suami, misalnya. Rasanya sakit sekali. Ada kekecewaan bercampur amarah. Ada perasaan malu yang amat sangat bercampur dengan kejengkelan.

Kalau Anda saja merasa demikian, apalagi anak Anda yang masih belum memiliki integritas diri yang kukuh? Tapi ada kalanya orangtua menghancurkan harga diri anak dengan maksud menumbuhkan semangat pada diri anak untuk mencapai prestasi terbaik.

“Pokoknya kalau Andi tidak bisa mendapat nilai yang baik, Mama akan cerita sama Ita. Kalau Andi nggak ingin Mama cerita, Andi harus memperbaiki prestasi.”

Atau, “Sudah, kalau Tony nakal terus, nanti Mama bilang sama Papa.”

Ungkapan-ungkapan seperti itu sangat mengganggu harga diri anak. Tetapi yang lebih menghancurkan harga diri adalah kalau ibu benar-benar menceritakan kepada orang lain. Ini yang kadang secara tidak sadar dilakukan oleh ibu. Misalnya ketika ada teman sedang menceritakan anaknya melalui telepon, dengan maksud mengimbangi maupun basa-basi, kadang ibu tanpa sadar menghancurkan diri anak.

“Aduh, Bu. Sama dengan anak saya. Yang nomor tiga itu, Si Pras, itu, aduh… malas sekali kalau disuruh belajar. Sampai jengkel saya kalau menyuruh dia!”

Sikap ibu ini dapat menjadikan dawdling, yaitu sikap negatif anak dengan tidak mau melakukan apa yang diperintahkan orangtua dengan harapan orangtuanya marah. Kalau orangtua marah, ia memperoleh kepuasan (baca Suara Hidayatullah edisi Juni 2007). Pada saat ini, ia mengungkapkan kejengkelannya pada orangtua.

4. Membuat Anak Defensif

Situasi yang memojokkan membuat seseorang harus bersikap bertahan (defensif), tidak menuruti kemauan pihak yang menghendaki berubah. Jika sangat terpaksa, ia akan menurut. Tetapi hanya asal tidak mendapat tekanan. Asal tidak dimarahi. Atau, ia menjadi apatis.

Ibu kadang memotivasi anak dengan cara memojokkan, misalnya, “Kamu pasti nggak sayang sama Mama. Kalau kamu sayang sama Mama, kamu nggak akan malas. Ayo, sekarang belajar.”

5. Mendorong Anak Balas Dendam

Saya pikir, tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya balas dendam. Tetapi ternyata, ada pola-pola komunikasi yang cenderung membuat anak terdorong untuk balas dendam. Misalnya, “Pokoknya kamu harus les Matematika. Ibu nggak mau mempunyai anak yang tidak pandai Matematika. Kalau Bahasa Indonesia , mudah dipelajari. Semua orang bisa menguasai.”

“Tapi, Deka pingin belajar karate, Ma.”

“Nggak. Pokoknya kamu harus les Matematika. Kamu boleh belajar karate, tapi nanti, kalau kamu sudah pandai Matematika,” tegas ibu keras.

Sebenarnya sikap tegas sangat perlu ditegakkan dalam keluarga. Tetapi ketegasan harus berlandaskan aturan yang jelas dan dipahami anak. Ketegasan harus selaras dengan sikap menghargai inisiatif anak.

Seorang ibu bisa mengajukan alternatif sebagai hal yang harus dipilih oleh anak. Tapi ibu harus mendapat menjamin bahwa anak memahami dan menerima penjelasan yang dikemukakan oleh ibu. Lebih dari itu, ibu harus memperhatikan apakah kehendak ibu tidak justru mematikan potensi anak yang sebenarnya sangat besar dan brilian. Inilah!

Karena itu, sikap terbuka dan mau mendengarkan anak, sangat penting untuk dimiliki ibu. Sebaiknya ibu lebih banyak mendampingi dan memberikan kehangatan sehingga anak memiliki percaya diri dan harga diri yang baik.

Ini akan lebih berharga bagi anak. Prestasi anak dapat lebih dipacu, sekalipun kelak anak jauh dari orangtua.

Demikian, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.
Read More..

Minggu, 31 Oktober 2010

Mengenalkan Allah Kepada Anak


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Kalau anak-anak itu kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak itu tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan –meskipun barangkali ada yang demikian—tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak. Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah dalam suasana menakutkan.

Mereka mengenal Allah dengan sifat-sifat jalaliyah-Nya, sementara sifat jamaliyah-Nya hampir-hampir tak mereka ketahui kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Maka tak salah kalau kemudian mereka menyebut nama Allah hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian datang menghampiri orang-orang tersayang.

Astaghfirullahal ‘adziim…

Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kesalahan, atau saat kita membelalakkan mata untuk mengeluarkan ancaman. Ketika mereka berbuat "keliru" –meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita—asma Allah terdengar keras di telinga mereka oleh teriakan kita, "Ayo…. Nggak boleh! Dosa!!! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa."

Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka, kita berteriak, "E… nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba…? Muba…? Mubazir!!! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho."

Setiap saat nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diperintahkan untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara "mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari". Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti penggunaan kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka "menjauh" karena telanjur memiliki kesan negatif yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata kita. Anak-anak yang dulu paling keras mengumandangkan adzan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat maghrib, sekarang di antara mereka ada yang berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Sebab, semenjak kecil mereka tak biasa menangkap dan merasakan kasih-sayang Allah.

Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apa pun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah. Kita ajari mereka menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?). Sehingga bertentangan apa yang mereka rasakan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

Bercermin pada perintah Nabi saw. dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada Allah atas diri kita dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:

Awali Bayimu dengan Laa Ilaaha IllaLlah

Rasulullah saw. pernah mengingatkan, "Awalilah bayi-bayimu dengan kalimat laa ilaaha illaLlah."

Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan di awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otaknya dan menghidupkan cahaya hatinya. Apa yang didengar bayi di saat-saat awal kehidupannya akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan. Suara ibu yang terdengar berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi. Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitu pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul 174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.

Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah saw. berpesan:

"Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering." (HR. At-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan, "Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan."

Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Tak ada penolong kecuali Allah Yang Maha Kuasa; Allah yang senantiasa membalas setiap kebaikan. Tak ada tempat meminta kecuali Allah. Tak ada tempat bergantung kecuali Allah. Dan itu semua menunjukkan kepada anak bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.

Wallahu a’lam bishawab.

Iqra’ Bismirabbikal ladzii Khalaq


Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Karim, sebagaimana firman-Nya, "Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara. Pertama, memperkenalkan Allah kepada anak melalui sifat-Nya yang pertama kali dikenalkan, yakni al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap wajah kita, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan pada mereka, bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.

Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Dari sini kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, "Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?"

Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran –bukan hanya pengetahuan—bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali diperkenalkan oleh Allah kepada kita, yakni al-Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya dan memuliakan mereka yang mulia.

Wallahu a’lam bishawab (Sumber: Hidayatullah.com)
Read More..

Selasa, 05 Oktober 2010

Pembunuhan Karakter yang Sangat Kejam


Penulis : M. Fauzil Adhim

RABU, 11 Oktober tahun 2006, seorang juri yang disebut ustadz berkata kepada salah satu kontestan Pildacil yang baru saja usai memberikan “tau­shiyah”. Juri ini berkata, “Kamu terbaik saat ini. Ini yang diinginkan juri. Beberapa tahun ke depan, rumah dan mobil kamu akan mewah. Kamu juga akan bisa membangun masjid.”

Fantastis. Sebuah “nasihat” yang membuat miris, sehingga tak cukup hanya dijawab dengan tangis. Sebuah “nasihat” yang seharusnya membuat orangtua ngeri membayangkan masa depan anak-anaknya, kecuali jika pertanyaan yang menguasai benak kita tentang anak-anak adalah apa yang akan mereka makan sesudah kita tiada. Bukan apa yang mereka sembah, sehingga apa pun yang mereka kerjakan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Bukan­kah Allah Ta’ala sudah berfirman?

“Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)".” (Al-An’aam: 162-163).

Inilah orientasi hidup yang perlu kita hunjamkan ke dada anak-anak kita. Kita hun­jamkan keinginan untuk menolong agama Allah ke dalam hati mereka sekuat-kuatnya. Se­moga dengan itu, ia menjadi orang yang ikhlas dalam memberikan hartanya, hidupnya, dan dirinya bagi agama ini. Sesungguhnya, amal itu bergantung pada niat. Jika anak-anak itu ke­lak menyembah Allah karena mengharap dunia, maka mereka tidak akan memperoleh akhi­rat. Sedangkan dunia belum tentu mereka dapatkan. Na’udzubillahi min dzaalik.

Adapun jika mereka membaktikan shalat, ibadah, hidup dan matinya untuk Allah semata-mata, maka sesungguhnya Allah Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Insya Allah mereka akan mampu menggenggam dunia dengan tangan kanannya, sedangkan di akhirat menanti surga yang penuh barakah. Allahumma amin.

Kuatnya orientasi hidup inilah yang harus menjadi perhatian kita; para orangtua dan pendidik di sekolah. Bahkan seandainya yang kita inginkan dari mereka adalah kesuksesan karier di dunia ini, kita harus menanamkan pada anak-anak kita orientasi hidup yang kuat dan bersifat spiritual. Dalam tulisannya yang bertajuk Educational Psychology Interactive (2000), W. Huitt menunjukkan bahwa seorang brilliant star (bintang brilian) –istilah Huitt tentang me­reka yang memiliki prestasi luar biasa melebihi orang-orang sukses pada umumnya—biasa­nya memiliki ciri spiritual yang sangat khas, yakni disciple & devout. Disciple berarti ia sangat percaya pada gagasan atau ajaran seorang pemimpin besar atau guru spiritual. Sedangkan devout menunjukkan ketaatan yang sangat kuat.

Masih menurut riset W. Huitt. Seorang brilliant star juga memiliki ciri sosial yang tran­senden. Apapun yang ia lakukan di masyarakat adalah dalam rangka mewujudkan perintah Tuhan di muka bumi dan menjadi pelayan yang rendah hati bagi ummat manusia. Ia berbuat banyak, bahkan melampaui yang bisa dilakukan orang lain, tetapi selalu merasa belum ber­­buat apa-apa yang pantas bagi orang lain. Ia banyak memberi manfaat, tetapi selalu merasa apa yang dilakukan belum cukup untuk mensyukuri nikmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Apa yang bisa kita petik dari catatan Huitt tentang bril­liant star? Kunci paling pokok untuk mengantarkan anak meraih sukses adalah membentuk jiwanya, membangun motivasinya, membakar semangatnya, dan mengarahkan orientasi hidupnya semenjak dini. Kita bakar semangatnya untuk bersungguh-sungguh melakukan yang terbaik demi sebuah idealisme yang buah­nya ada di surga. Kita tumbuhkan pada dirinya orientasi hidup yang bersifat spiritual sejak usia kanak-kanak. Kita bangkitkan cita-cita untuk menjadi orang yang paling banyak memberi manfaat bagi agama ini dengan harta dan jiwanya.

Ini semua merupakan akar motivasi. Di sekolah, hal-hal yang bersifat motivasional tersebut secara keseluruhan termasuk bagian dari dasar-dasar berpengetahuan (the basic of knowing); bagian penting pendidikan yang harus kita bangun pada para peserta didik di jen­jang sekolah dasar, terutama kelas satu sampai tiga. Mudah-mudahan dengan itu anak kita memiliki motivasi intrinsik yang kuat. Bukan motivasi ekstrinsik, yakni tergeraknya seseorang melakukan sesuatu karena dorongan dari luar. Bukan karena merasa apa yang dilakukannya itu baik dan memang seharusnya dilakukan.

Jika motivasi intrinsik memiliki akar yang kuat sehingga sulit diruntuhkan, maka motivasi ekstrinsik justru mudah patah tanpa perlu kita patahkan. Semakin intrinsik motivasi seseorang, semakin kuat daya tahannya melakukan sesuatu dengan penuh semangat.

Pada masa kanak-kanak, motivasi masih dalam proses perkembangan. Fase pemben­tukan yang paling penting berada pada rentang usia 0-8 tahun. Selanjutnya, usia 9-12 tahun merupakan fase penguatan. Secara umum, anak-anak mencapai kemapanan motivasi pada usia dua belas tahun. Artinya, pada usia ini motivasi anak cenderung stabil, meskipun masih ada kemungkinan berubah. Jika pada usia-usia sebelumnya orangtua dan guru secara terus-menerus membangun motivasi intrinsiknya, insya-Allah pada usia ini kuatnya motivasi su­dah menjadi karakter anak.

Nah, apakah yang ditawarkan di acara yang bernama Pildacil? Anak-anak dilatih menirukan ceramah –bukan mengekspresikan gagasan secara alamiah—untuk meraih mimpi-mimpi tentang uang yang berlimpah, umroh gratis dan bahkan sekaligus ambisi punya rumah mewah seperti komentar juri yang saya kutip di awal tulisan ini.

Lalu, akan kita bawa ke mana anak-anak kita jika di usianya yang masih sangat belia, sudah sibuk mendakwahkan agama untuk meraih dunia? Padahal, hari ini mereka seharusnya membangun motivasi yang kuat, budaya belajar yang kokoh, integritas yang tinggi, dan visi besar yang bernilai spiritual.
Wallahu a’lam bishawab.

Di luar itu semua, ada beberapa hal yang memprihatinkan bagi perkembangan mereka di masa mendatang, terutama jika mengingat bahwa tidak mungkin mereka bisa tampil di Pildacil kecuali karena ada potensi besar pada diri mereka. Pertama, jika melihat cara mereka berbicara dan sorot matanya saat tampil, tampak betul bahwa mereka bukan sedang mengekspresikan gagasan. Tetapi mereka sedang belajar mengambil jalan pintas. Mereka menjadi kaset yang diputar ulang. Materi ceramah dan gaya berbicara, tidak sedikit yang menunjukkan bahwa bukan diri mereka yang tampil. Barangkali tidak disadari, cara seperti ini merupakan pembunuhan karakter positif anak.

Kedua, di saat anak-anak harus belajar beramal dengan ikhlas dan gigih berusaha, mereka melihat kenyataan bahwa yang membuat mereka hebat bukan usaha keras mereka untuk berbicara dengan sebaik-baiknya, tetapi seberapa banyak SMS yang masuk untuk dia. Di banyak tempat, pembunuhan karakter berikutnya terjadi: dari orangtua, pejabat pemerintah hingga pemuka agama yang tidak visioner berlomba mengeluarkan dana sekaligus menyeru untuk berkirim SMS sebanyak-banyaknya. Sekali lagi, anak belajar praktek manipulasi. Pada­hal orang dewasa pun seharusnya tetap belajar untuk secara jujur mengakui keutamaan orang lain dan berusaha mengambil pelajaran dari orang lain yang lebih baik.

Dampak lebih jauh dari praktek manipulasi suara –sebagian orangtua bahkan sampai menjual harta berharga untuk mendongkrak perolehan SMS—masih sangat panjang.

Tetapi belum cukup kuat hati saya untuk membahasnya saat ini. Semoga Allah berikan kepada saya kekuatan untuk menulis yang lebih tuntas di waktu mendatang.

Ketiga, anak-anak yang seharusnya belajar membangun visi hidup dan orientasi spiritual, justru kehilangan elan vital (daya hidup) untuk terus mencari ilmu dengan sebaik-baiknya karena fokusnya justru bagaimana menarik perhatian publik. Bukan menyampaikan apa yang baik. Bukankah apa yang harus disampaikan sudah dilatihkan?

Tiga hal ini hanyalah sebagian alasan mengapa kita harus menahan diri agar tidak menjerumuskan anak-anak kita ikut Pildacil. Terlalu kecil harga yang mereka terima untuk sebuah kehilangan yang sangat besar.

Anak-anak itu sangat luar biasa potensinya. Alangkah besar manfaat yang bisa dipetik oleh agama dan ummat manusia jika kita memilih membangun kekuatan jiwa, aqidah, iman, akal budi dan kegigihannya saat ini sehingga kelak mereka bisa memberi kebaikan yang sebesar-besarnya. Betapa pun, harus kita akui dengan jujur, Pildacil sama sekali bukan untuk melakukan pembibitan generasi Islam.

Pildacil adalah bisnis dan hiburan, karena hanya inilah kamus yang dikenal oleh TV! (www.hidayatullah.com)
Read More..

Kamis, 08 Juli 2010

Bahagiakan Mereka, Nyalakan Semangatnya


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Tidak ada anak yang bandel. Kitalah yang tidak tahu bagaimana mengajak bicara, menyemangati, dan memberikan arah hidup bagi mereka. Kitalah yang lupa untuk bermain bersama, bercanda, dan bercerita agar hati mereka dekat dengan kita. Padahal kita tahu kedekatan hati itulah yang membuat anak akan mendengar kata-kata kita.

Tidak ada anak yang bodoh. Kitalah yang tidak mengerti bagaimana merangsang kecerdasan dan menggairahkan minat belajar mereka. Setiap anak–asal normal—lahir dalam keadaan jenius dan penuh rasa ingin tahu. Kitalah yang mematikannya dengan hadiah-hadiah, bahkan di saat mereka tidak menginginkannya.

Kita lupa bahwa anak-anak pada awalnya tidak memerlukan hadiah untuk melakukan apa yang mereka inginkan. Tanpa hadiah, anak-anak tetap bersemangat belajar merangkak dan berjalan, meski harus beberapa kali tersungkur.

Anak-anak tidak pernah meminta uang untuk satu kosa kata baru yang mereka kuasai di waktu kecil. Mereka belajar karena ingin tahu. Mereka melakukan hal-hal besar yang bermanfaat karena bersemangat. Bukan karena menghindari hukuman. Bukan juga untuk mengharap imbalan.

Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat semangatnya menyala-nyala sesudah kita berkali-kali mematikannya? Apa yang bisa kita perbuat agar anak-anak memiliki semangat berkobar-kobar?

Kasih Sayang
Mari kita lihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sepanjang yang saya ketahui (ingatkan kalau keliru), Rasulullah tidak menggunakan dinar dan dirham untuk merangsang anak-anak berbuat baik. Tetapi anak-anak itu bersemangat karena Rasulullah memberi perhatian dan waktunya untuk menggembirakan hati. Rasulullah bercanda, bermain-main, bersikap lemah lembut, dan melimpahkan cinta kasih yang tulus kepada anak-anak.

Pernah Rasulullah menggendong cucunya, Umamah putri Zainab. Padahal ketika itu beliau sedang shalat.

Abu Qatadah berkata, “Kami keluar bersama Rasulullah SAW, sedangkan Umamah binti Abi Al-Ash berada di atas bahu Rasulullah (digendong). Lalu beliau shalat. Ketika beliau rukuk, maka Umamah diletakkan, dan ketika beliau bangun dari rukuk, maka Umamah diangkat.” (Riwayat Bukhari)

Sebuah pelajaran penting tentang betapa besar nilai kasih sayang bagi proses pendidikan (tarbiyah) dan pembentukan karakter anak-anak (ta’dib). Begitu pentingnya, sehingga saat shalat pun diizinkan untuk menggendong anak yang masih kecil agar hilang rasa susahnya dan gembira hatinya.

Betapa besar nilai kedekatan kita dengan anak-anak bagi proses penanaman nilai tauhid dan pembentukan sikap religius, sehingga Rasulullah pun pernah memendekkan shalatnya karena terdengar tangisan anak. Sayangnya hari ini, hanya karena kita tidak bisa shalat dengan khusyuk, anak-anak kita halau dari masjid dan tempat kita shalat.

Kita suruh anak-anak pergi jauh-jauh hanya karena mereka bergembira di masjid; berteriak-teriak, berlarian ke sana kemari, dan menirukan gerakan shalat kita dengan antusias dan jenaka. Kita larang anak-anak kecil masuk masjid karena tidak ingin mendengar tangisnya. Kita lupa bahwa Rasulullah memendekkan shalatnya bukan karena terganggu tangis anak-anak, tetapi agar ibu anak itu tidak risau. Sungguh, sangat berbeda akibatnya dalam tindakan jika kita salah menyimpulkan.

Dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah SAW berkata, “Aku mulai shalat dan ingin memanjang shalatku. Tiba-tiba aku mendengar tangis bayi, sehingga aku pendekkan shalatku, karena aku tahu bahwa ibunya sedih mendengar tangis bayinya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Qatadah meriwayatkan dari Nabi, beliau bersabda, “Ketika shalat, aku bermaksud memanjangkan bacaan. Tiba-tiba aku mendengar tangis bayi, lalu aku pendekkan shalatku khawatir akan memberatkan ibunya.” (Riwayat Bukhari)

Rasulullah memilih untuk memendekkan shalatnya. Bukan melarang ibu tersebut membawa anaknya ke masjid di waktu-waktu berikutnya. Sungguh, ributnya anak-anak saat kita sedang shalat jauh lebih baik daripada jauhnya hati mereka dari agama Allah yang haq ini.

Alangkah mulia Nabi, dan alangkah jauh kita yang hidup sekarang ini. Saya ingin berbicara tentang ini lebih panjang lagi, tetapi saya harus kembali pada perbincangan di awal. Bukan dinar, bukan dirham, dan bukan pula hadiah-hadiah yang membuat anak-anak bersemangat. Tetapi kedekatan hati.

Bahagiakanlah, Muliakanlah

Bahagiakanlah mereka, insya Allah di dada mereka akan ada semangat yang menyala-nyala.

Muliakanlah, insya Allah mereka akan memuliakan dan mendengar kata-kata kita.

Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hati diciptakan dengan karakter yang mencintai orang yang memuliakannya dan membenci orang yang menghinakannya.”

Kita bisa belajar dari nasihat Ibnu Mas’ud. Pertama, muliakanlah anak dan bahagiakan mereka, niscaya mereka akan memuliakan kita, mendengar kata-kata kita, dan mengarahkan dirinya untuk menjadi seperti “yang seharusnya”. Bagaimana seharusnya mereka, sangat berkait dengan apa yang kita ajarkan kepada mereka.

Kedua, kenalkanlah kemuliaan Allah, sifat pemurah, dan keagungan Allah yang menciptakan manusia dari segumpal darah, insya Allah mereka akan lebih dekat hatinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bukan membebani dengan perintah-perintah untuk tunduk kepada-Nya agar mereka disayang dan doa-doa dikabulkan. Sebab, manusia cenderung memuliakan yang memuliakannya. Bukan mengagungkan kepada yang membalasi kebaikannya.

Bukankah Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Yang Menciptakan dan Yang Maha Pemurah pada firman-Nya yang pertama kali turun? “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-‘Alaq: 1-5)

Alhasil, ketika anak-anak kita ajari berdoa, mereka yakin bahwa Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tidak sia-sia berdoa kepada Yang Maha Baik. Justru karena mengetahui Allah Maha Pemurah, insya Allah mereka lebih sungguh-sungguh berharap dan meminta.

Sayangnya, selama ini kita lebih sering memperkenalkan Allah dengan cara yang menyeramkan. Kita ajari mereka berbuat baik dan berdoa seolah-olah Allah tidak akan menurunkan rahmat dan nikmat-Nya kecuali setelah kita berbuat baik. Lalu, bagaimana mungkin kita berharap mereka menjadi orang-orang yang bersyukur dan bersungguh-sungguh mengelola hidupnya jika cara awal kita sudah salah?

Astaghfirullahal-‘adziim. Agaknya, banyak sekali kesalahan yang kita lakukan terhadap anak-anak. Agaknya kita perlu meminta keikhlasan mereka untuk memaafkan dan memperbaiki cara kita mendidik, agar kelak mereka tak menyesal mempunyai orangtua seperti kita.

Waktu, Bukan Uang!
Saya teringat ucapan Garry Martin dan Grayson Osborne. Psikolog dan penulis buku Psychology Adjustment and Everyday Living ini berkata, “Manfaatkanlah waktu yang ada. Pertama, janganlah mempunyai anak bila Anda tidak punya waktu untuk mereka. Kedua, jika Anda punya waktu, perhatikanlah waktu itu dengan serius. Inilah waktu untuk saling memahami, untuk mendukung perilaku kecil yang Anda setujui dari tingkah laku anak-anak Anda. Jauh lebih baik lagi jika Anda memberikan dukungan itu segera ketika hal-hal kecil itu terjadi.”

Ya......, waktu! Bukan uang. Bukan benda-benda. Waktu untuk memberi perhatian, berbincang bersama, memberi kehangatan, bercanda, waktu untuk menyampaikan pesan dengan cara yang bersahabat dan penuh kehangatan, serta waktu untuk bermain dan bersujud bersama.

Inilah yang diberikan oleh Rasulullah kepada anak-anak. Rasulullah bercanda, bermain kuda-kudaan, dan memberi julukan-julukan yang baik kepada anak. Inilah yang membuat anak-anak di masa itu tumbuh sebagai pribadi penuh percaya diri dan bersemangat tinggi.

Selebihnya, kita bisa memberikan hadiah kepada anak-anak bukan sebagai perangsang agar berbuat baik, melainkan sebagai bentuk perhatian dan kasih sayang. Ini berarti menuntut cinta tanpa syarat. Kita berikan hadiah kepada anak-anak secara adil dan merata, sehingga mereka merasakan betapa orangtuanya sangat pemurah dan memuliakan. Kita beri hadiah karena mencintainya, bukan imbalan atas apa yang mereka kerjakan.

Jika kita berikan hadiah karena mereka berbuat baik, lalu mana yang menunjukkan tulusnya cinta kita kepada mereka? Atas dasar apa kita menuntut yang lebih dari mereka? Bukankah pemberian kita merupakan harga yang pas atas tindakan mereka?

Astaghfirullahal-‘adziim. Alangkah banyak kekeliruan kita. Alangkah sedikit ilmu yang kita siapkan untuk membangun satu generasi. Padahal dari generasi itu, barangkali akan menentukan karakter generasi berikutnya hingga beratus tahun sesudah kita tiada.

Ya Allah, ampunilah kami yang tak memiliki bekal apa-apa untuk menjadi orangtua.

Ya Allah, tutupilah kelemahan kami dengan memberikan kemuliaan kepada mereka.

Nak, maafkanlah bapakmu ini. Bersabarlah atas kebodohan dan kezhaliman orangtua kalian. Semoga kelak Allah meninggikan derajatmu dan memuliakanmu dengan surga-Nya yang tertinggi. Allahumma amin. (sumber: Hidayatullah.com)
Read More..

Rabu, 21 April 2010

Antusiasme yang Menyala


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Pernahkah bayi Anda sakit? Apa yang terjadi padanya? Ya, dia akan rewel jika sakitnya sudah benar-benar sangat mengganggu. Lebih-lebih pada malam hari ketika kantuknya datang dan mata tak kunjung bisa terpejam. Tetapi begitu dia mulai sedikit sehat (belum sehat betul), rasa sakit yang mendera tak dirasakannya lagi. Ia bermain-main dengan gembira. Tertawa renyah, berlari-lari, dan berceloteh. Padahal badannya masih panas, nafasnya masih tersengal, dan batuknya belum sepenuhnya reda.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari anak-anak kita yang lucu itu? Fokus dan antusiasme. Pada saat perhatian kita fokus pada satu hal, kita cenderung tidak peka terhadap hal-hal lain sekalipun itu sebenarnya kurang nyaman bagi diri kita. Rasa sakit kita "menghilang" karena hampir seluruh energi kita mengarah pada sesuatu yang menjadi fokus kita. Semakin kuat fokus kita, semakin besar perhatian kita, serta semakin tinggi kepekaan kita terhadap hal tersebut. Pada saat yang sama kita cenderung "mengabaikan" hal-hal lain.

Ketika fokus perhatian saya terhadap pendidikan anak sangat kuat, membaca buku sejarah atau politik pun memantik insight (semacam "aha", "oya", "ya") tentang pendidikan anak. Saya menulis buku Salahnya Kodok misalnya, bukan karena membaca buku-buku psikologi anak. Tetapi saya membaca tentang Jepang, Amerika, dan Israel; bagaimana mereka menanamkan sikap politik. Saya tercenung sejenak, lalu melihat ada yang keliru pada kita saat anak terjatuh. Bukan mengajarinya memahami apa yang terjadi, apa konsekuensinya dan tindakan apa yang perlu dilakukan untuk masa-masa berikutnya. Tetapi kita menyalahkan sekeliling dan bila perlu melakukan tindakan naif untuk mencari pembenaran.

"Hush, itu ayamnya yang nakal." Kita hibur anak sembari melemparkan sandal kita ke arah ayam di seberang sana, atau kita salahkan lantai yang tak bersalah, dan jadilah anak kita belajar menjadi pengecut. Anak terhibur, tetapi kehilangan kesempatan belajar. Anak segera reda tangisnya, tetapi kehilangan daya tahan menghadapi tantangan. Ia belajar melemahkan dirinya sendiri karena orangtua mengajarkannya demikian. Ia tidak belajar memahami tindakannya dan mengendalikan sekeliling. Ia hanya belajar mengendalikan orangtua dan menyalahkan sekeliling. Dan inilah tragedi yang kita tanam sendiri pada jiwa anak-anak kita!

Kembali ke fokus. Kuatnya fokus membuat otak kita semakin cemerlang. Kita mengingat dengan baik bukan karena menghafal, tetapi karena fokus yang kuat memberi sinyal pada otak bahwa informasi itu berharga. Dan Anda tahu, ada dua hal yang membuat otak kita mengingat dengan lebih baik: perhatian dan makna. Sesuatu bisa memiliki makna yang bagi kita karena berhubungan erat dengan kepentingan kita. Ketika Anda bermusuhan dengan seseorang, Anda lebih mudah mengingat informasi tentang keburukannya. Anda juga lebih cepat melihat hubungan antara sebuah peristiwa dengan kesalahan atau keburukan orang yang sangat tidak Anda sukai.

Bermakna tidaknya informasi bisa juga berkait dengan nilai-nilai ideologis yang mempengaruhi jiwa kita. Lebih-lebih jika nilai itu benar-benar telah menjadi daya penggerak (driving force) bagi hidup kita, maka tingkat kepekaan kita akan meningkat dan segala hal yang berkaitan semakin bermakna.

Itu sebabnya, kita perlu menggerakkan anak-anak kita dengan tujuan yang sifatnya ideologis. Kita berusaha agar agama menjadi daya penggerak bagi hidupnya, sehingga membentuk reason for being "semacam alasan untuk bertindak" bagi anak-anak kita. Sesungguhnya, motivasi itu berkait erat dengan apa yang menggerakkan kita untuk bertindak, apa yang ingin kita capai, dan cita-cita besar yang ingin kita raih.

Dalam keadaan termotivasi (motivated), fokus kita akan semakin kuat. Dan kita baru saja melihat bahwa kuatnya ingatan kita berkait erat dengan perhatian dan makna.

Penjelasan ini memahamkan kita mengapa anak-anak generasi salafush-shalih sangat cemerlang otaknya. Anak-anak itu fokusnya terjaga dan motivasinya menyala-nyala karena agama. Persoalannya, apakah kita sudah cukup layak untuk menjadi orangtua? Orangtua yang tidak sekedar lebih tua umurnya daripada anak!

Lalu apa yang melemahkan fokus? Hadiah dan gengsi. Kita perlu memberi hadiah pada anak untuk menunjukkan rasa sayang kita. Bukan untuk "menggaji" perbuatan baiknya, sebab ini akan melemahkan. Kita bisa memberi mereka iming-iming, tetapi bukan sesuatu yang bisa diraih hanya dengan satu perbuatan, saat ini juga, sekarang juga. Kita bangun mimpi mereka tentang surga, sembari membangun harapan kita sendiri untuk bisa meraih surga. Tetapi surga tidak bisa Anda raih seketika. Anda harus mati dulu. Itu pun tidak cukup untuk memastikan kita masuk surga. Mati bukan jalan masuk surga. Harus ada amal shalih. Itu pun tak cukup. Amal shalihnya harus yang diridhai, sebagaimana diamanahkan dalam surat Al-Ahqaaf ayat 15.

Mengenai gengsi, pada awalnya anak tidak pusing-pusing dengan baju apa yang ia pakai. Mahal atau tidak, bermerek atau tidak, anak tidak peduli. Kitalah yang mengajari mereka untuk malu memakai baju hadiah, sehingga pikiran yang seharusnya fokus pada keunggulan, jadi terpecah karena penampilan.

Tentu saja anak-anak harus berpakaian pantas. Tapi yang harus kita ajarkan adalah alasan mendasar di balik itu. Jadi, ada tujuan di balik tindakan.

Astaghirullahal adzim. Rasanya saya belum pantas menjadi orangtua untuk anak-anak saya. Banyak sekali kekurangan yang masih melekat pada diri saya.

Antusiasme

Kekuatan lain anak kita adalah antusiasme yang menyala. Secara sederhana, antusiasme adalah perasaan yang kuat, rasa senang, kegairahan dan semangat terhadap sesuatu. Ketika anak belajar berjalan, ia benar-benar merasa senang dengan proses belajar berjalan yang ia lakukan. Tidak peduli berapa kali dia jatuh, tak peduli lecet-lecet lututnya. Mungkin ia menangis sesaat sebagai reaksi terhadap rasa sakit di badan, tetapi ia segera kembali belajar berjalan dengan sungguh-sungguh, penuh semangat dan senang. Karena antusias, anak belajar dengan mudah apa yang sulit dipelajari. Karena antusiasme yang tinggi pula, anak tetap bersemangat ketika harus berkali-kali jatuh dan gagal. Ia tidak putus asa.

Setiap anak lahir dengan antusiasme yang sangat tinggi. Ia selalu tergerak untuk belajar dan belajar. Ia melakukan berbagai hal yang membantunya segera mampu melakukan berbagai aktivitas yang semula tidak mungkin ia lakukan.

Berbekal antusiasme yang sangat tinggi, anak melakukan proses belajar dengan sangat cepat. Salah satunya, dalam keadaan antusias, otak memproses informasi dan pengalaman dengan lebih baik. Jika Anda belajar dalam keadaan sangat bergairah, Anda akan lebih mudah mengingat sekaligus memahami apa yang Anda pelajari. Belajar terasa menyenangkan bukan karena materi pelajarannya yang mengajak kita bersenang-senang, tetapi perasaan kita yang kuat membuat apa pun yang kita pelajari 'sekalipun sulit' terasa menyenangkan.

Dari sini kita bisa memahami mengapa ada TK (Taman Kanak-kanak) yang sengaja tidak mengajarkan menyanyi. TK model ini menyelenggarakan kegiatan belajar yang menyenangkan dengan terutama membangun kedekatan emosi antara guru dan anak, merangsang antusiasme anak untuk belajar, mengobarkan motivasi yang kuat dan membangun karakter yang kuat. Guru merancang model kegiatan yang terasa alamiah, spontan, menyenangkan dan antusias. Dengan demikian, tidak adanya menyanyi bukan membuat anak tertekan. Karena prinsip pokok pembelajaran usia dini adalah menyenangkan. Jika menyanyi tidak menyenangkan bagi anak, mereka tidak boleh dipaksa untuk menyanyi. Bukankah anak bisa mengalami proses belajar yang menyenangkan dan penuh gairah hanya jika antusiasme anak menyala-nyala?

TK tanpa nyanyi ini sudah ada di beberapa negara. Salah satu keunggulan yang menonjol dari TK model ini adalah pembangunan karakter pada anak.

Saya ingin berbicara lebih lanjut tentang TK yang berkembang pertama kali di Austria ini. Tetapi kali ini bukan kesempatan yang tepat. Kali ini saya hanya ingin mengajak Anda untuk melihat betapa besarnya kekuatan yang bernama antusiasme. Tugas kitalah untuk menjaganya dan mengarahkan pada aktivitas yang terbaik. Salah satunya dengan membangun kekuatan motivasi saat anak-anak berada di jenjang TK dan SD.

Secara keseluruhan, fokus dan antusiasme pada orang-orang dewasa bisa kita temukan pada mereka yang ikhlas dan istiqamah. Karena ikhlas, mereka bersungguh-sungguh dan melakukan kegiatan serta amal shalih secara total.

Energi keikhlasan itulah yang perlu kita bangun pada anak di tahap awal kehidupannya di sekolah. Wallahu a'am bish-shawab. [www.hidayatullah.com]
Read More..

Selasa, 06 April 2010

Memilih Buku Bergizi untuk Anak


Buku bergizi berbeda dengan buku yang menarik. Sekedar menarik saja tidak cukup sebagai alasan untuk memilih buat anak kita.

oleh Mohammad Fauzil Adhim

Aku Bisa Pakai Kaos Kaki Sendiri. Begitu judul salah satu buku kesukaan anak saya –yang sekarang sudah tidak berbentuk lagi. Buku itu saya beli sewaktu jalan-jalan dengan anak saya yang ketiga, Muhammad Hibatillah Hasanin. Di rumah, kami memang biasa menjadikan toko buku sebagai tempat jalan-jalan, tujuan rekreasi, dan sekaligus sebagai hadiah terindah bagi anak-anak. Meskipun kadang saya harus belajar menahan diri untuk tidak membeli setiap buku yang menarik, tetapi toko buku tetap menjadi tempat rekreasi terindah.

Kalau ada buku bagus seperti itu, biasanya mereka minta ibunya membacakan. Kadang lampu sudah dimatikan pun mereka masih bersemangat minta dibacakan buku. Sekarang yang lagi semangat-semangatnya membaca adalah Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak keempat kami yang usianya dua tahun satu bulan. Kadang-kadang bi­ngung juga menghadapinya. Mata sudah mengantuk, lampu sudah dimatikan, tetapi Owi –begitu kami biasa memanggil—masih saja minta dibacakan buku. Apalagi kalau kakaknya turut serta minta dibacakan. Untunglah si sulung, Fathimah, sudah bisa mengajari adik-adiknya sekarang. Sering kalau ada buku bagus, Fathimah yang membacakan buku untuk adik-adiknya. Atau kadang Fathimah membaca buku untuk dirinya sendiri, kemudian adiknya datang ikut nimbrung mendengarkan.

Alhamdulillah, Fathimah sudah lancar membaca semenjak ia masih belajar di Ta­man Kanak-kanak. Tepatnya di TKIT Salman Al-Farisi Warungboto, Yogyakarta. Sekarang usianya tepat enam tahun, duduk di kelas satu SDIT Salman Al-Farisi Klebengan, Yogya­karta. Banyak buku yang ia sukai. Salah satunya adalah seri Ensiklopedi Bocah Muslim. Buku ini merupakan salah satu favorit anak-anak. Saking favoritnya, seri 15 Ensiklopedi Bocah Muslim sudah rusak. Padahal kami beli belum terlalu lama. Owi rupanya meman­faatkan ensiklopedi ini sebagai buku mewarnai. Sementara ia biasa menggoreskan crayon dengan kekuatan penuh.

Ada cerita tersendiri tentang Ensiklopedi Bocah Muslim ini. Sebelum beredar, saya sudah mendengar kabar dari Mas Ali Muakhir –editor di penerbit DAR! Mizan yang menerbitkan ensiklopedi tersebut. Waktu itu saya sedang berada di Bandung. Begitu pu­lang ke Yogya, saya ceritakan kabar dari Mas Ali ini kepada istri saya maupun kepada Fathimah dan adik-adiknya. Antusias sekali mereka. Apalagi ketika saya mendapat undangan peluncuran buku ini di Jakarta. Meskipun saya tidak bisa hadir, tetapi gambar di kartu undangan telah merangsang rasa ingin tahu mereka.

Bulan Maret 2004, ada Islamic Book Fair di Yogya­karta. Salah satu stand men­jual ensiklopedi tersebut. Se­gera saja kami berunding. Fa­thimah punya celengan uang receh di rumah. Adik-adiknya punya celengan juga. Mereka berunding dan sepakat memecah semua celengan mereka. Terkumpullah uang yang membuat mata mereka berbinar-binar. “Wow, Pak. Banyak sekali!” kata Husain, anak saya yang kedua. Tapi uang sejumlah itu tetap masih kurang. Oh, ada tabungan Fathimah di sekolah. Kalau diambil mungkin men­cukupi.

Esoknya tabungan itu diambil dan ternyata masih belum cukup. Lalu Fathimah berkata, “Ibu, bagaimana? Aku kepingin beli ensiklopedi.” Lalu Fathimah dan ibunya berbicara dengan saya, minta supaya ditambah dengan uang saya. Alhamdulillah, ada rezeki. Bisa buat menutupi kekurangan. Ensiklopedi pun kami beli saat itu (Fathim, alhamdulillah ya, Nak. Kita punya sesuatu yang lebih baik daripada TV. Ensi­klopedi harganya lebih mahal, lho daripada TV).

Kembali ke soal buku Aku Bisa Pakai Kaos Kaki Sendiri. Hasanin segera saja memperoleh kegembiraan tersendiri ketika buku itu dibacakan ibunya. Saudara-saudara­nya ikut serta. Mereka berkumpul melingkar, mengitari kaki ibunya. Mereka terpingkal-pingkal mendengar cerita tentang kaos kaki yang dipakai terbalik. Mereka bergembira. Dan yang lebih menggembirakan saya, Husain dan Hasanin bersemangat pakai kaos kaki sendiri. Tapi di rumah, anak laki-laki tidak biasa pakai kaos kaki–sebagaimana saya sen­diri tidak biasa memakainya. Mereka kemudian belajar pakai celana sendiri dan baju sendiri–ketika itu usia Hasanin belum mencapai tiga tahun. Dan uff… jatuh. Dua kaki masuk satu lubang. Tentu saja sulit bergerak. Dan karena tidak seimbang, segera saja Hasanin terjatuh. Dan lihat apa yang terjadi dengan kakaknya? Rupanya Husain juga demikian. Jadilah mereka saling tertawa.

O ya, masih ada buku lain yang kami beli pada kesempatan berikutnya. Aku Be­rani Minum Obat. Buku tipis ini memberi manfaat yang besar. Saya tidak tahu pasti apakah anak saya terpengaruh oleh buku ini atau terpengaruh oleh cara ibunya meminumkan obat yang cerdas dan menarik. Yang jelas kami syukuri, Owi sangat mudah diminumi obat. Sejak usianya belum satu setengah tahun, ia begitu mudah menerima obat yang disodorkan kepadanya. Kalau pahit? Ia akan segera meminta segelas teh.

Banyak pengalaman menarik dari kegiatan sehari-hari bergaul dengan buku. Membaca buku Aku Sayang Adik (DAR! Mizan), Fathimah menjadi lebih sayang dengan adik-adiknya. Fathimah suka menggendong adiknya, mengajaknya bermain, dan mendiam­kannya apabila menangis.

Ada buku-buku lain yang mengesankan. Tetapi pada kesempatan kali ini, biarlah saya mencukup­kan cerita saya sampai di sini. Ada yang lebih penting un­tuk saya sampaikan. Mengingat begitu kuatnya pengaruh buku –lebih-lebih pada masa kanak-kanak—maka penting seka­li kita perhatikan nilai gizi buku untuk anak-anak kita. Ibarat makanan, kandungan gizi buku sangat meme­ngaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak anak. Inilah yang sangat perlu kita perhatikan mengingat usia-usia me­reka merupakan masa paling strategis untuk membangun fondasi kepribadian, termasuk di dalamnya fondasi para­digma berpikir, bersikap dan bertindak. Pada masa-masa ini pula kepekaan emosi anak sangat efektif un­tuk diasah atau justru ditumpulkan.

Kalau David Shenk menggambarkan sebagian besar informasi yang beredar di era informasi sekarang ini sebagai kotoran dan buangan seperti tercermin dalam judul bukunya Data Smog (Ko­toran Data); dan kotoran itu menyebabkan kita mengalami brain meltdown (penurunan kemampuan otak), maka bagaimana lagi jika anak-anak yang–ibarat komputer—operating system-nya belum terbangun kokoh? Sama seperti bayi yang perlu dilindungi dengan memberi makanan terbaik berupa ASI, anak-anak kita yang masih lucu-lucunya itu juga perlu kita lindungi kesehatan pikiran dan mentalnya dengan hanya memberi bacaan-ba­caan bergizi. Melalui bacaan-bacaan bergizi tersebut, mereka akan memiliki kekuatan yang kokoh, imunitas yang tangguh dan rangsangan berpikir maupun mental yang kaya.

Buku bergizi berbeda dengan buku yang menarik. Sekedar menarik saja tidak cukup sebagai alasan untuk memilih buat anak kita. Tetapi buku bergizi yang tidak menarik, sulit membuat anak bergairah membacanya, kecuali kalau orangtua menunjukkan antusiasmenya yang besar atau anak memang sudah gila membaca. Pada sebagian buku yang benar-benar bergizi, baik tulisan maupun ilustrasi benar-benar merangsang pikiran, perasaan dan imajinasi anak.

Menimbang Gizi Buku Anak

Bincang soal buku bergizi, apa saja sih yang menentukan gizi sebuah buku, wa bil khusus buku anak-anak? Beberapa catatan berikut, mudah-mudahan bermanfaat.

Kita bicara secara ringkas saja tentang gizi buku buat anak-anak kita. Pertama, kita perhatikan kesesuaian buku dengan anak. Sue Bredekamp sangat menekankan aspek kesesuaian ini untuk memperoleh keberhasilan yang maksimal. Anak benar-benar menye­rap manfaat yang besar tanpa harus merasa terbebani. Kesesuaian (appropriateness) itu mencakup kesesuaian usia dan kesesuaian individual. Saya tidak hendak mendiskusikan terlalu jauh tentang kesesuaian individual ini. Saya hanya ingin menekankan bahwa se­tiap buku anak, seharusnya sesuai dengan tahap perkembangan di usia yang menjadi bi­dikan buku tersebut. Tampaknya, masih banyak penerbit yang belum mampu membi­dik umur sasaran dengan baik. Bayangkan, ada buku anak yang ditujukan untuk anak TK hingga SD kelas enam. Ini luar biasa (luar biasa mengherankan!). Padahal karakteristik perkembangan di rentang usia itu sangat beragam dan benar-benar berbeda.

Kedua, daya rangsang buku untuk memantik gagasan-gagasan segar pada anak, baik yang secara langsung ditulis atau pun tidak. Sering saya jumpai buku-buku anak yang pesan permukaannya (surface message) bagus, tetapi di dalamnya (inner message) buruk. Sekilas isinya bergizi, tetapi tanpa disadari –kadang penulisnya pun tak sadar-- memanntik gagasan buruk pada anak (inspiring bad).

Ketiga, kekuatan gagasan dan alur cerita. Ilustrasi yang bagus akan sangat me­nunjang kuatnya alur yang diciptakan penulisnya. Gagasan yang kuat dan memiliki pi­jakan yang mampu membangun visi anak, akan lebih bertenaga apabila disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan hidup. Kekuatan bahasa inilah pertimbangan keempat dalam menakar gizi buku anak. [www.hidayatullah.com]
Read More..

Minggu, 21 Maret 2010

Menumbuhkan Percaya Diri Anak


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis­caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha­dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut… entah berapa kali meng­alami luka. Tetapi anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat, sampai orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang.

Pada mulanya anak-anak tak peduli dengan pakaian yang mereka kenakan. Apa mereknya, mereka tak peduli. Mereka juga tidak pusing-pusing jika ada yang sobek di kiri dan di kanan. Mereka tetap saja melangkah dengan mantap karena mereka berpusat pada tujuan. Tidak sibuk membayangkan apa yang akan dikatakan orang. Mereka belajar dengan ikhlas. Tetapi orangtualah yang membuat mereka malu berangkat ke sekolah ka­rena sepatu yang dipakai tak sebagus teman-temannya.

Anak-anak di Inggris, sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris. Begitu juga balita-balita di Mesir, usia TK bahasa Arabnya sudah lebih baik daripada anak-anak Madrasah Aliyah kelas dua. Mereka belajar dengan penuh semangat. Rasa percaya dirinya sangat kuat. Mereka tidak berpusing-pusing dengan tata bahasa, dan tidak khawa­tir salah mengucapkannya –karena umumnya orangtua menerima apa adanya kesalahan ucapan anak-anaknya yang masih bayi. Orangtua bahkan menanggapi dengan penuh antusias dan penghargaan yang tinggi setiap kali anaknya berani mencoba bicara. Tetapi ketika mereka mulai beranjak besar, kita mulai cerewet terhadap mereka. Karena takut anaknya bingung, mereka tak boleh belajar yang pelik-pelik. Sebaliknya, karena sangat ingin anaknya cerdas, mereka perintahkan anak-anak itu belajar mati-matian dengan cara yang tidak tepat. Tidak sebagaimana kodrat perkembangan belajar mereka. Alamiah, ber­sahabat, dan penuh semangat.

Astaghfirullahal ‘azhim… Alangkah jauh kita dari agama. Lebih-lebih yang me­nulis risalah ini.

Benarlah kata Buckminster Fuller. Ia pernah mengingatkan, “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan keje­niusan mereka dalam enam bulan pertama.”

Ya, setiap anak. Siapa pun ia, sejauh lahir dalam keadaan mental yang normal, mereka adalah jenius-jenius besar yang sudah dibekali Allah dengan percaya diri tinggi, semangat besar, antusias, dan senantiasa belajar. Di usia-usia awal kehidupannya hingga menginjak tahun keenam, mereka belajar –meminjam istilah Glenn Doman— “tanpa usaha”. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan ungkapan Glenn Doman, tetapi ungkapan ini saya pakai untuk menunjukkan betapa anak-anak kita dikaruniai daya tangkap yang luar biasa atas setiap perkara yang kita ajarkan kepada mereka. Sengaja atau tidak.

Rangsangan yang kaya dan tepat di usia ini bukan saja membuat mereka lebih cerdas. Lebih dari itu potensi mereka sendiri berkembang. Salah satu potensi itu adalah IQ. Ini berbeda dengan orang dewasa. Usaha yang keras dalam belajar akan membuat kita lebih cerdas, tetapi IQ kita tidak akan bertambah. Perkembangan IQ sudah selesai pada usia 12 tahun, dengan rincian 90% perkembangan IQ tercapai pada usia 6 tahun dan 10% sisanya diselesaikan antara usia 6-12 tahun. Maka sungguh, rangsangan yang tepat di usia-usia awal akan sangat besar artinya. Dan itulah yang dilakukan oleh orangtua Imam Syafi’i rahimahullah sehingga anaknya hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun. Begitu pula yang dila­kukan oleh para orangtua generasi salafush-shalih. Tetapi bukan kita.

Astaghfirullahal-‘azhim. Orangtua macam apakah kita ini, ya Akhy? Ataukah kita menjadi orangtua semata-mata karena anak kita sudah lahir?

Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya mela­hirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahir­kan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan karena mereka me­miliki kepatutan sebagai orangtua. Dan saya tidak tahu, apakah yang menulis ini layak disebut orangtua ataukah hanya orang yang lebih tua dari anaknya.

Astaghfirullahal-‘azhim. Semoga Allah membaguskan amal-amal kita dan memba­guskan pendidikan anak-anak kita.

Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi. Padahal, kita yang men­jadi penyebabnya. Kita ajarkan anak kita berjilbab agar mereka menjadi orang yang memu­liakan syari’at Allah semenjak usia mereka yang masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan keinginan untuk memperoleh tepuk-tangan manusia yang kita bangkitkan. Kalau mereka tidak berjilbab, bukan kita ingatkan mereka tentang mahabbatullah, melainkan biar cantik dilihat orang. Maksud kita baik, tetapi yang kita te­riakkan, “Ayo, coba dipakai jilbabnya. Ih, jelek ah kalau nggak pakai jilbab.”

Begitu mereka memakai jilbabnya, segera saja kita memuji, “Nah…, gitu dong. Kalau pakai jilbab kan cakep. Cantik, kan?”

Ah, andaikan saja pujian yang jarang kita berikan pada anak itu lebih mengingat­kan mereka kepada Tuhannya, insya-Allah akan lain ceritanya anak-anak kita. Tetapi tidak. Kita lebih sering memuji mereka –meskipun tampaknya kita lebih sering mencela—dengan alasan-alasan yang tidak menghidupkan jiwa. Kalau memang memakai jilbab hanya untuk cantik, bukankah ada jalan lain agar tampil lebih cantik lagi daripada sekedar pakai jilbab?

Sebagaimana cara kita memuji anak saat pakai jilbab, seperti itu pula seringkali kita menganjurkan anak-anak berpakaian yang patut saat ke masjid. Kita suruh mereka pakai pakaian yang bagus biar tidak malu pada teman. Bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla sudah berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf: 31).

Maka, bukan bunda salah mengandung kalau anak-anak itu akhirnya memiliki rasa percaya diri yang tanggung. Berbeda sedikit saja dengan temannya, sudah cukup un­tuk membuat mereka meringkuk di kamar. Tak berani berbaur dengan hati yang mantap. Apalagi menjadi sumber pengaruh yang baik bagi teman-temannya. Padahal mereka dila­hirkan untuk zaman yang bukan kita; zaman yang membutuhkan kekuatan jiwa lebih be­sar. Zaman yang membutuhkan orang-orang dengan percaya diri tinggi, cerdas akalnya, hidup jiwanya dan jernih hatinya. Mereka inilah yang siap untuk menyambut perintah, “Qum fa andzir. Bangunlah, lalu berilah peringatan.” Perintah-perintah di masa awal kena­bian Rasulullah tercinta, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka? Jika perkataan saat menyuruh mereka mengenakan pakaian yang indah justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang kokoh, maka seruan Nabi SAW saat haji Wada’ adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah. Mari kita renungkan kembali tatkala Nabi mengingatkan:

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam, dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Inilah ajaran yang membuat sahabat-sahabat dengan pakaian kumal tidak malu mendatangi istana para kaisar. Inilah keyakinan yang membuat para salafush-shalih tidak kelu lidahnya melihat jubah-jubah kebesaran pada sultan. Inilah nasehat yang membuat setiap manusia merasa sederajat, tetapi di saat yang sama membuat mereka senantiasa merendah karena tak ada yang tahu siapa di antara mereka yang paling bertakwa. Sebab, ukuran takwa bukan terletak pada panjangnya jenggot, melainkan pada iman dan amal shalih yang berpijak di atas aqidah yang lurus.

Sungguh, saya bermimpi. Saya betul-betul sangat mengingini agar nasihat Nabi saw ini diajarkan kepada anak-anak semenjak usia pra-sekolah. Di SD-SD, TK dan play-group, anak-anak perlu belajar. Bukan untuk menjadi hafalan semata, tetapi untuk menjadi kekuatan dalam jiwanya. Kita ajarkan kepada mereka, matannya maupun maknanya.

Demi Allah, mereka inilah yang insya-Allah lebih bagus daripada generasi orang­tuanya semacam kita. Pada saatnya, biarlah kita menjadi catatan sejarah saja bahwa kita pernah ada. Tugas kita sekarang adalah menyiapkan mereka agar menjadi manusia-manu­sia yang menegakkan kalimat Allah di muka bumi dengan penuh percaya diri. Mereka tidak tunduk hanya karena takjub melihat Chinook. Mereka tidak lemah hanya karena mendengar nama Amerika.

Anak-anak kitakah yang akan seperti itu? [sahid/www.hidayatullah.com]
Read More..

Kamis, 04 Maret 2010

50 Tahun Mendatang Anak Kita…


Penulis: M. Fauzil Adhim

50 tahun yang akan datang, anak-anak kita mungkin sedang mengendalikan dunia dan memenuhi hatinya dengan zikir kepada Allah

50 tahun yang akan datang…

Mungkin kita sudah mati dan jasad kita dikubur entah dimana; atau sedang tua renta sehingga harus berpegangan tongkat untuk berjalan; atau sedang menjemput syahid di jalan Allah di hari yang sama dengan hari ketika kita bertemu sekarang dan jam yang sama dengan jam saat kita berbincang; atau kita sedang menunggu kematian datang dengan kebaikan yang besar dan bukan keburukan. Allahumma amin…

50 tahun yang akan datang…


Anak-anak kita mungkin sudah tersebar di seluruh dunia. Saat itu, mungkin ada yang sedang menggugah inspirasi umat Islam seluruh dunia, berbicara dari Mesir hingga Amerika, dari Al-Makkah al-Mukarramah hingga Barcelona . Ia menggerakkan hati dan melakukan proyek-proyek kebaikan sehingga kota-kota yang pernah terang benderang di zaman keemasan Islam, dari Gibraltar hingga Madrid, dari Istambul hingga Shenzhen, kembali dipenuhi gemuruh takbir saat penghujung malam datang. Sementara siangnya mereka seperti singa kelaparan yang bekerja keras menggenggam dunia. Mereka membasahi tubuhnya dengan keringat karena kerasnya bekerja meski segala fasilitas dunia telah ada, sementara di malam hari mereka membasahi wajah dan hatinya dengan airmata karena besarnya rasa takut pada Allah Ta’ala. Rasa takut yang bersumber dari cinta dan taat kepada-Nya.

Ya, mereka gigih merebut dunia bukan karena gila harta dan takut mati, tetapi karena ingin menjadikan setiap detik kehidupannya untuk menolong agama Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengambil fardhu kifayah yang belum banyak tertangani. Gigih bekerja karena mengharap setiap tetes keringatnya dapat menjadi pembuka jalan ke surga.

Kelak (izinkan saya bermimpi) anak-anak kita bertebaran di muka bumi. Meninggikan kalimat Allah, menyeru kepada kebenaran dengan cara yang baik¸ saling mengingatkan untuk menjauhi kemunkaran, dan mengimani Allah dengan benar. Tangannya mengendalikan kehidupan, tetapi hatinya merindukan kematian. Bukan karena jenuh dan berputus asa terhadap dunia, tetapi karena kuatnya keinginan untuk pulang ke kampung akhirat dan mengharap pertemuan dengan Allah dan rasul-Nya.

Mereka inilah anak-anak yang hidup jiwanya. Bukan sekadar cerdas otaknya. Kuat imannya, kuat ibadahnya, kuat ilmunya, kuat himmah-nya, kuat ikhtiarnya, kuat pula sujudnya. Dan itu semua tak akan pernah terwujud jika kita tidak mempersiapkannya, hari ini!

50 tahun yang akan datang…

Anak-anak kita mungkin sedang mengendalikan dunia dan memenuhi hatinya dengan zikir kepada Allah. Mereka mungkin sedang mengendalikan jaringan bisnis besar, supermarket–hypermarket hingga perusahaan-perusahaan manufaktur berteknologi tinggi di seluruh dunia.

Sebagian lainnya mungkin sedang memimpin ma’had putri yang setiap alumninya menjadi penentu sejarah dunia. Bukankah al-ummuh madrasah al-ula (ibu adalah madrasah pertama) yang membentuk karakter dan cara berpikir satu generasi di belakangnya? Maka mempersiapkan visi dan kecakapan seorang ibu sama pentingnya dengan mempersiapkan peradaban umat ini lima tahun ke depan. Membiarkan anak-anak perempuan menyibukkan diri dengan hasrat untuk memperoleh perhatian lawan jenis, seperti mengizinkan masa depan agama dan umat ini hancur.

Anak-anak itu harus dibekali agar kelak mampu menjadi perempuan untuk agama ini; yang setiap tutur katanya akan meninggikan kalimat Allah. Sementara rahimnya, tidaklah akan tumbuh benih di dalamnya kecuali generasi yang sejak awal pertemuan sudah bertabur kalimat suci. Bukankah kepribadian itu terbentuk sejak benih bapak-ibunya bertemu? Bagaimana kedua orangtua mereka mempertemukan benih, sangat mempengaruhi bagaimana benih itu kelak akan tumbuh dan berkembang.

Persiapkan pula anak laki-laki kita agar menjadi pemberani bagi agama ini. Mereka menghiasi hidupnya dengan tangis di malam hari, dan usaha yang gigih di siang hari. Mereka mampu menegakkan kepala dengan ‘izzah (harga diri) yang tinggi di hadapan manusia karena kehormatannya, kemuliaannya, keimanannya, dan kekuatannya. Tetapi terhadap istrinya, sikapnya lembut penuh cinta. Bukankah untuk melahirkan anak-anak yang hebat dan shalih, pintu pertamanya adalah mencintai ibu mereka dengan sepenuh hati?

Ketulusan cinta mampu menggerakkan hati para bunda untuk tak henti-hentinya memberi perhatian. Ia tetap mampu tersenyum di saat anak bangun tengah malam, tepat ketika ia baru saja terlelap, meski ada suami yang mencintainya sepenuh hati sepenuh jiwa. Seorang suami yang bukan hanya memberikan harta, lebih dari itu memberikan perhatian dan kesediaannya berbagi.

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menangis kagum kepada suaminya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena perhatiannya yang lembut? Sebagaimana dinukil Ibnu Katsir, ‘Aisyah menangis seraya berucap, “Kaana kullu amrihi ‘ajaba (Ah, semuanya menakjubkan bagiku),” tatkala ditanya tentang apa yang paling berkesan baginya dari Rasulullah. Ia kemudian bertutur tentang bagaimana Rasulullah meminta izin kepadanya untuk qiyamul-lail. Hanya itu. Tetapi perkara yang kecil itu tak akan hadir jika tak ada perhatian yang besar.

50 tahun yang akan datang…

Di negeri ini… kita mungkin menemui pusara bapak-bapak yang hari ini sedang mewarnai anak-anak kita. Mereka terbujur tanpa nisan tanpa prasasti, sementara hidangan di surga te­lah menanti. Atau sebaliknya, beribu-ribu monumen berdiri untuk mengenangnya, sementara tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan. Mereka menjadi berhala yang dikenang dengan perayaan, tetapi tak ada doa yang membasahi lisan anak-anaknya. Na’udzubillahi min dzalik.

Betapa banyak pelajaran yang bertabur di sekeliling kita; dari orang-orang yang masih hidup atau mereka yang sudah tiada. Tetapi betapa sedikit yang kita renungkan.

Kisah tentang KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang mengulang-ulang pembahasan tentang Al-Maa’uun hingga menimbulkan pertanyaan dari murid-muridnya, masih kerap kita dengar. Jejak-jejak kebaikan berupa rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah-sekolah, masih bertebaran. Tetapi jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya yang membuatnya bergerak menata akidah umat ini, rasanya semakin sulit kita lacak.

Tulisan pendiri Nahdlatul ‘Ulama, Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari, sahabat dekat KH Ahmad Dahlan, masih bisa kita lacak, meski semakin langka. Tetapi jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya semakin sulit ditemukan. Apa yang dulu diyakini haram oleh Hadratusy-Syaikh, hari ini justru dianggap wajib oleh mereka yang merasa sebagai pengikutnya.

Apa artinya? Iman tidak kita wariskan, kecuali kalau hari ini kita didik mereka dengan sungguh-sungguh untuk mencintai Tuhannya. Keyakinan, cara pandang, dan idealisme juga tidak bisa kita wariskan ke dalam dada mereka kalau hari ini kita hanya sibuk memikirkan dunianya. Bukan akhiratnya. Atau kita persiapkan mereka menuju akhirat, tetapi kita bekali dengan kekuatan, keterampilan, dan ilmu untuk memenangi hidup di dunia dan menggenggamnya. Betapa banyak anak yang dulu rajin puasa Senin-Kamis, tetapi ketika harus bertarung melawan kesulitan hidup, yang kemudian Senin-Kamis adalah imannya. Kadang ada, kadang nyaris tak tersisa. Na’udzubillahi min dzaalik.

Teringatlah saya dengan perkataan Nabi Ya’qub ‘alaihis-salaam saat menghadapi sakaratul maut. Allah mengabadikannya dalam Surat Al-Baqarah ayat 133:

“Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’”

Ya, “Maa ta’buduuna min ba’diy?(Apakah yang akan kalian sembah sepeninggalku?)” Bukan, “Maa ta’kuluuna min ba’diy? (Apakah yang akan kalian makan sesudah aku tiada?)”

Lalu, seberapa gelisah kita hari ini? Apakah kita sibuk memperbanyak tabungan agar kelak mereka tidak kebingungan cari makan sesudah kita tiada? Ataukah kita bekali jiwanya dengan tujuan hidup, visi besar, semangat menyala-nyala, budaya belajar yang tinggi, iman yang kuat dan kesediaan untuk berbagi karena Allah?

Kita hidupkan jiwanya dengan memberi bacaan yang bergizi, nasihat yang menyejukkan hati, dorongan yang melecut semangat, tantangan yang menggugah, dan dukungan di saat gagal sehingga ia merasa kita perhatikan. Kita nyalakan tujuan hidupnya dengan mengajarkan mereka untuk mengenal Tuhannya. Kita bangun visi besar mereka dengan menghadirkan kisah orang-orang besar sepanjang sejarah; orang-orang shalih yang telah memberi warna kehidupan, sehingga mereka menemukan figur untuk dipelajari, dikagumi, dan dicontoh.

50 tahun mendatang anak-anak kita, hari inilah menentukannya. Semoga warisan terbaik kita untuk mereka adalah pendidikan yang kita berikan dengan berbekal ilmu dan kesungguhan. Kita antarkan pesan-pesan itu dengan cara yang terbaik. Sementara doa-doa yang kita panjatkan dengan tangis dan airmata, semoga menggenapkan yang kurang, meluruskan yang keliru, menyempurnakan yang sudah baik dan di atas semuanya, kepada siapa lagi kita meminta selain kepada-Nya?

Ya Allah, ampunilah aku yang lebih sering lalai daripada ingat, yang lebih sering zhalim daripada adil, yang lebih sering bakhil daripada berbagi karena mengharap ridha-Mu, yang lebih banyak jahil daripada mengilmui setiap tindakan, yang lebih banyak berbuat dosa daripada melakukan kebajikan....

Ya Allah Yang Menggenggam langit dan bumi.... Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikanlah ia sebagai penutup keburukan dan pembuka kebaikan. Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikan ia sebagai jalan perjumpaan dengan-Mu dan bukan permulaan musibah yang tak ada ujungnya. Jadikan ia sebagai penggenap kebaikan agar anak-anak kami mampu berbuat yang lebih baik untuk agamamu.

Ya Allah, jangan jadikan kami penghalang kebaikan dan kemuliaan anak-anak kami hanya karena kami tak mengerti mereka. Amin.[www.hidayatullah.com]
Read More..

Selasa, 17 November 2009

The Positive of Islamic Parenting


One of the greatest challenges a Muslim will ever face is being a parent. This is one challenge, however, many of us are least prepared for.

Allah tells us in the Quran that our children are our trial and as such we should take the task of parenting seriously, and start learning from each other. In my experience in dealing with my own family and counseling other Muslim families, a model has developed based on what I call "The Positive and Negative C's". I pray to Allah that this humble contribution will help parents and children alike in diagnosing and repairing the health of their families.

Compassion (Rehmat)

Prophet Muhammad (peace and blessings be upon him) stated, "He is not of us who does not have compassion for his fellow beings".

It is interesting to note that when it comes to Hadith like this or Quranic quotes dealing with human behavior, we never stop to think that our children and family members are also our fellow human beings and that these golden rules must also be applied to them.

Compassion is only one component of the concept of mercy (Rehmat) — the others being kindness, respect, and of course love. Remember the displeasure of Prophet Muhammad when a Bedouin told him how he had never kissed any of his ten children.

Consultation (Shura)

The Prophet has related that Allah says "Oh My servant. I look on high handedness as something not permissible for myself, and I have forbidden it for you. So do not oppress each other".

When we consult with each other in the domestic realm, both husband and wife must show respect for each other. This is one of the best ways to bond and to learn to listen to each other and to resolve conflicts. However, the consultation will only be fruitful if it is sincere and not merely a formality. Imposition of one's ideas with scant regard to the welfare of the whole family unit defeats the purpose of the most important Quranic principle of Shura.

Cooperation

This concept of cooperation in Islam is most beautifully illustrated in Sura Al-Asr: "… counsel each other to the truth (Haq), and counsel each other to patience and fortitude (Sabr)".

When a family unit cooperates in this manner, they truly capture the spirit of Islam — the welfare of each member of the family becomes the concern of the other.

Commitment

It is extremely important that our families commit themselves as a unit to Allah and His Prophet(s): "Obey Allah and His Prophet and those in authority over you" (Nisa). This collective commitment gives us an identity and maps out our purpose — namely that we all belong to Allah and are accountable and responsible to Him.

Communication

Communication is more than talking. It is an essential part of family life. It is both talking in a manner in which others can understand you, and hearing in a manner in which you can listen and understand others.

So many times people claim that they have no communication problem since they are always talking. However, the majority of the time they are talking "at" and not talking "to". This mode usually results in the recipient tuning out. Many children at an early age learn to tune out their parents.

When communication is a means to listening, understanding, and exchanging ideas, it is the most powerful tool to effective parenting and the best shield against peer and societal pressures.

It also teaches children skills to problem solving. An important component of positive communication is a sense of humor when parents and children can laugh together. Communication can also be instrumental in passing down family history and thus creating oneness and togetherness by sharing a mutual heritage (children love to hear about family stories).

Consistency

Effective parenting requires that we are consistent in our value judgments, discipline, and moral standards. Many parents inadvertently apply double standards to boys and girls when it comes to social behavior and domestic chores. This is unacceptable, and leads to sibling rivalry and stereotypical males and females.

Confidentiality

Family is with whom we can feel safe and secure. Where we know our secrets are safe and where there is mutual trust. Unfortunately, parents often betray the trust of their children when they discuss their concerns, which they confide in them to outsiders. This leads to mistrust, and sooner or later our children will stop confiding in us. This may take them to find confidants outside the family, sometimes non-Muslim peers, and this can be detrimental to their spiritual and moral growth.

Contentment (Tawakkul)

The greatest gift we can give our children is that of contentment. This can be developed very early in life by encouraging our children to give thanks to Allah for all they have by discouraging materialism by word and example, and by counting the blessings every night and remembering the less fortunate.

Confidence

It is the duty of parents to build confidence in our children through encouragement and honest and sincere praise. By developing confidence, we give our children the courage to stand up for themselves and their beliefs and to be able to deal with opposition.

Control

By teaching restraint and avoiding excess we develop in our children control so that they do not become slaves to their desires (Nafs).

Calm

By encouraging and showing calm in matters of adversity and in times of panic we improve our Taqwa (God consciousness) and teach our children to rely on Allah and to turn to Allah alone for all needs.

Courage

Courage of conviction can only be achieved when we have been able to teach our children true Islam. We should take advantage of every learning opportunity as a family so that our faith (Iman) flourishes and evolves towards Ihsan as a family unit. In this manner we can be a source of strength to each other.

Critical Thinking

The Quran encourages us over and over again to think, reflect, ponder, understand and analyze. However, very rarely do. Parents must encourage children to ask questions. Our response to difficult inquiries from our children is to say "do it because I said so". This discourages the children from developing critical thinking. They become lazy and complacent and easy prey to cult type following. To take things at face value makes us vulnerable.

Charitable

The most important attitude of a Muslim personality is, as Prophet Muhammad stated : "Do you not wish that Allah will forgive you? Then forgive your brothers and sisters". Many relationships break because people are not able to forgive each other. It is important that parents make up in front of their children by forgiving each other after an argument. Prophet Muhammad stated, "Like for your brother what you like for yourself". So if husband and wife expect respect from each other they should give respect.

A charitable nature also encourages us to overlook people with their shortcomings and to be sensitive and to have empathy.
Read More..

Jumat, 27 Maret 2009

Effective Islamic Parenting

The Soul of your child is like an uncut precious jewel entrusted into your care by Allah. To you is given the awesome responsibility of shaping that precious jewel into a beautiful form, pleasing to the eye of Allah. It is your sacred duty to ensure your child grows up to be a good and right human being (Muslim). The oneness (tawhid) of Allah is also expressed in the unity of Islamic life. Raising your children to be good and right human beings is part of the necessary Islamization of world society. The simple fact is that it is very difficult, perhaps impossible, to raise your children to be truly good and right human beings in the world as it is at present.

Only in a fully Islamic world will the conditions exist where children will naturally develop into the good and right humans beings desired by Allah. That is the beautiful future we can offer our children, but to do this we must do battle with the influences of the present wrong world as we create that promised future for our children. We do this by learning the knowledge and skills it takes to be an effective Islamic parent, and developing in our hearts the unstoppable desire to put these skills and knowledge into practice in our everyday life as we aid our children in their development.

We are greatly blessed by Allah to be Muslims at this particular time in world history. The unique social and historical conditions, combined with new the knowledge and technology now available, make it not only possible but highly likely that within a generation or so we will live in that long unfulfilled dream of all Muslims, a truly Islamic world.

These unique conditions existing today are: the fact that the prevailing dominant world culture, the Western culture, is undergoing a widespread social collapse due to the inherent wrongness within its belief systems and behaviours; that the conclusions of modern science have finally reached a point where one must acknowledge science now supports the traditional beliefs in God and His works; that we have recently come to understand the laws of learning by which all human characteristics are developed; and, that we now have a worldwide communication network so effective that any important new idea could reach virtually every person in the world within days.

The result of these existing conditions is that: those suffering from the collapse of the Western way of life and thought are desperate for some solution to their distress and will see in Islam that much needed answer; atheism and secular materialism will lose their power to take the faith in Islam from our youth; through the spread of the knowledge of learning theory each new generation will come closer to the perfect expression of Islam in the physical existence; and, through the right use of communication technology a unified ummah of 1.2 billion Muslims will be able to effectively offer the traditional scholarship and knowledge of Islam to all the people of the world.

In the coming years there will occur many new opportunities for all Muslims to take an active role in the creation of this truly and fully Islamic world of the future. As a most important beginning to this momentous task it is necessary for every Muslim parent to learn and practice the techniques of effective Islamic parenting. The path to effective Islamic parenting consists of two parts, necessarily inseparable. They are an objective, accurate and positive worldview, combined with a good understanding of the laws of learning by which all human characteristics develop. This is necessary because the laws of learning are much too powerful to be used without a clear positive direction in which to influence the child's development. Islam most certainly provides this clear, correct and positive direction, as Allah would never mislead us.

All laws in this physical universe belong to Allah, and the laws of learning, to the degree we correctly understand them, by which all human development takes place are created by Allah just as are the laws of physics which hold the moon, sun, and stars in place. These laws of learning provide the most powerful tool for directing the development of the individual or any social group that has ever existed. For a Muslim to be a truly effective Islamic parent it is necessary to understand Allah's laws of learning.

Just as Allah has made our religion easy for us, Allah has made the laws of learning easy for us to understand and use. Actually, these laws of learning in their entirety can be quite complex, and to fully comprehend these laws and understand their widest application can take many years of study. Nevertheless, all thanks to His Mercy, Allah has allowed anyone hearing a brief and simple explanation of these laws of learning to be able to use most of their incredible power. This easily understood knowledge of the laws of learning is more than enough to enable a parent to raise their child as a good and right human being.

It is important that knowledge of these laws of learning and their use should never be seen as somehow separate from the unity of Islamic life. To be most effective in helping you raise your children, these laws of learning are not to be 'applied' like some mechanical tool, but they must be incorporated deeply into the innermost reaches of your consciousness until they become a natural part of your unique style of interpersonal communication and interaction with your child.

In order to keep this explanation of the laws of learning both brief and simple it will be presented as a successive series of individual points, but made specific for use in effective Islamic parenting:

GENERAL LAWS OF DEVELOPMENT

Most basic premise - That any person or social group who possesses both a positive and accurate world view and an understanding of the laws of learning will move naturally and inevitably toward all things good and right.

An infant child comes into the world perfectly good and only becomes other than perfectly good while growing into adulthood due to the influences upon him/her during their years of development.

Human society is obviously not perfectly good at this point in history, in fact our world society has become so bad that some philosophers have made the claim that human nature is basically evil.

The reason so much evil exists in today's world is not because human nature is basically evil, but because the influences we naturally encounter as physical beings in a material world tend most often to direct our development away from Allah.

The influences upon us come from three sources in our environment, the physical, the social(any influence coming either directly or indirectly from other people), and from inner speech(the influence of our own thoughts and feelings).

Every influence upon a us will have some effect greater than zero; and, while most of these will be very small, some can be so powerful as to be life changing.

The overall impact upon our development of any single influence from any of these three sources can be either negative or positive.

Every individual is subjected to many thousands of influences every day, some of these influences being directed toward evil and some being directed toward Allah.

To overcome the influence of evil (movement toward the material) and move toward Allah (the spiritual) takes consistent and concentrated effort.

If we do not recognize the affect of these influences upon our development we will go whichever way the influences take us, thereby too often moving away from Allah and toward evil.

If we can recognize the affect of these influences upon our development we can use the laws of learning to limit the affect of the negative influences upon us and to increase the affect of the positive influences upon us, thereby moving continuously away from evil and moving toward Allah.

When we see an influence upon us that we know would push us away from Allah we can say things to ourselves using inner speech that can take away the power of that negative influence.

When we see an influence upon us that we know would help us move toward Allah we can say things to ourselves using inner speech that can add greatly to the power of that positive influence.

As we learn to recognize all the influences upon us from the inner and outer realms of the environment, when we learn to correctly identify those influences as being either negative or positive upon our development, and when we learn to use our inner speech to say the correct things after each one of those negative or positive influences (which will reduce the power of the negative and increase the power of the positive), then we will begin naturally and inevitably to move away from all that is wrong and harmful, and we will begin to move naturally and inevitably toward all things good and right.

An individual who does these things cannot fail to become a good and right human being; and, a society that does these things cannot fail to become a good and right society.

GENERAL LAWS OF LEARNING

Basically, all laws of learning involve what is commonly called reward and punishment.

Any behaviour that is followed by reward (reinforcement) will tend to increase in the future.

There are two classes of reward: when something that is desired is given after a behaviour, that is reward (for example, if you were to smile at your child after he/she says something nice); and, when something that is disliked is removed after a behaviour, that is reward (for example, when your feeling of shame for some wrong you have done is removed by offering sincere repentance and seeking forgiveness from Allah).

Any behaviour that is followed by punishment will tend to decrease in the future.

There are two classes of punishment: when something that is disliked occurs after a behaviour, that is punishment (for example, if you were to hit your child after he/she says something rude); and, when something that is liked is removed after a behaviour, that is punishment (for example, if your child is not allowed to continue playing after hitting a playmate).

Punishment is always harmful to the child even if it seems to achieve the parent's goal.

The undesirable side effects of punishment are: the child will sometimes try to escape from or retaliate (fight) against the punishing situation; the child will sometimes have negative feelings toward whoever punishes him/her; and, punishment usually remains effective only when the possibility of punishment is clearly present.

The alternative to punishment should not be permissiveness (meaning to let your child do anything they want), if there is anything more harmful to the child's development than punishment it is permissiveness.

The right alternative to punishment in raising a child is called directed positive influence.

Directed positive influence means to reward (with praise, attention or an occasional small gift) your child after they do things that are good and right, while gently providing correction when your child does wrong.

The younger you start using directed positive influence with your child the easier it will be for you and the more effective it will be in helping your child develop into a good and right human being.

To provide effective Islamic parenting you must understand the concept of 'shaping'.

Shaping is the consistent rewarding of successive small steps toward any desired goal for your child.

With the shaping process correctly and consistently in effect there is no positive goal that cannot be achieved.

Set every goal at perfection, being rewarding of successful steps along that unending path but never punishing the non-arrival at that perfect goal.

The beginning steps in the shaping process should be kept small so they are easily accomplished successfully.

If during the shaping process you make any step so large that it cannot be accomplished then the progress toward the desired goal will come to a stop, and often revert back to a much less desired level.

Lots of reward should be given at the beginning of the shaping process and then should be gradually reduced in the later stages.

If reward is given after every behaviour in the shaping process this is called 'continuous reinforcement'.

Continuous reinforcement is very good for getting progress toward some desired goal underway.

The problem with continuous reinforcement is that the behaviour can become too dependent on the reward, and could stop quickly if the reward stops.

If reward is given not after every behaviour in the shaping process but after only some behaviours this is called 'variable reinforcement'.

Variable reinforcement is a good way to maintain progress toward a desired goal without the behaviour becoming too dependent on the reward, so that your child does not always expect to be rewarded for their right behaviour.

To make the shaping process most effective you should teach your child how to reward their successful progress with inner speech, their own thoughts and feelings, so reward from others is no longer necessary to maintain good and right behaviour.

It is good to always discuss your goals for your child with him/her so that you are consciously working together to achieve goals you both desire.

It will help your child greatly in their development if you can teach him/her the specifics of the laws of learning that you are using to help them become good and right human beings.

For most effective parenting everyone in the family group should be made aware of and helped to understand these laws of learning, should try to relate to each other on the basis of these laws of learning, and should share, appreciate and work together to achieve the desired goals.

SPECIFICS OF EFFECTIVE ISLAMIC PARENTING

For Islamic parenting to be most effective there must be a truly Islamic society, so part of your responsibility as Muslim parents is to help recreate a right Islamic world.

Parental love for their children is a Mercy from Allah, not only in humans but even in animals.

In Islam the love of a parent for their child is so taken for granted that it is not even thought necessary to state this as a requirement for parents.

In Islam the main responsibility the parent has to their child is to provide for their education (this is to be understood in the broadest possible sense, including all things that assist the child to become a good and right human being).

The Qur'an also places great responsibility on the child in regard to their parents, requiring the child to be kind to the parents, to help their parents in their old age, to never speak to their parents with contempt, to never reject their parents, to honour their parents, and to fulfil all these responsibilities with humility.

Every child should be taught from their earliest years about their responsibility as a vicegerent(khalifah) of Allah; that it is their duty as vicegerent to transform themselves into Muslims living in true submission to the Will of Allah, that it is their duty to transform all of human society into an Islamic society living in true submission to the Will of Allah, and that it their duty to transform the physical world of space and time into a garden paradise for Allah.

Raise your child to be a courageous Muslim, willing to struggle against evil in the greater and lesser jihad, as this will be necessary to create a right Islamic world for the future.

Raise your child to fully believe they will successfully create and live in a truly Islamic world, because belief is critical to successfully achieving any goal.

Anything that you believe will happen is more likely to happen because you will find ways (both consciously and unconsciously) to make sure it happens, and anything that you don't believe will happen is less likely to happen because you will find ways to make sure it doesn't happen; this fact is known as the 'self-fulfilling prophesy'.

The parent should never let their love for their child prevent them from doing what is right for their child (for example neglecting to correct the child when he/she does wrong).

If there is a conflict of interests, the requirements of Islam have priority over the desires of the child (for example, if the child would rather play than pray).

Teach your child to love Allah, The Prophet, Islam, and Islamic values.

Teach your child to see all things and understand all things from the perspective of Islam.

In Islam if it becomes necessary to correct your child for some wrongdoing this must be done according to a certain hierarchy: first, explain to your child in a gentle way how they have overstepped some limit from rightness into wrong; second, if the gentle instruction does not result in the child correcting that wrong behaviour, you should indicate your disapproval of that wrong behaviour by withdrawing your favour (for example, do not give smiles, hugs or kind words to your child at such times); and third, only as a last resort, your child can be physically punished (beaten) if they do not correct the wrong behaviour.

In Islam if it becomes necessary for you to beat your child there are specific rules and limitations: you may not hit your child on the face or stomach, you may not hit your child more than a maximum of three times, and you may not hit your child hard enough to leave a cut or bruise on the skin.

You should never hit your child when you are angry, not only are you then more likely to become excessive in your punishment but doing so will teach your child that it is right to hit people when they are angry.

It is important to realize that if you reach a point where you feel it is necessary to beat your child then something has gone badly wrong, and you previously have not done all you could have done to avoid this becoming necessary.

It is a fact of learning that you cannot punish a child without harming him/her, so punishment can only become necessary if you have no positive alternative, and the good that comes from being punished will outweigh the harm you do to your child.

Remember, the Prophet Muhammad (peace be upon him) never once hit a child, a woman or a servant.

Do not argue with your child, as there is almost never any benefit in doing so.

Although your child might well choose to pray at a younger age, at seven years of age your child should be required to pray through gentle encouragement; and, at ten years of age your child can be beaten for not praying, although this circumstance should never arise with correct Islamic parenting.

Your child should be taught to memorize the Qur'an, the benefits are many and much wider in scope than is often believed in these modern times.

At every age there must be appropriate rights given to your child and necessary limits set upon your child's behaviour, which will allow your child to fully explore their human potential while not causing harm to themselves, harm to others or damage to their surroundings.

If you see your child doing something wrong it is usually not even necessary to mention the thing that is wrong, instead, it is often sufficient (and always more desirable) only to say how much you like the right thing which is the opposite of the wrong being done.

You should not expose your child's failings or wrongdoings in front of others, if this must be done it is best if it be done privately.

Don't give much attention to the bad or wrong things your child does and says, but give lots of attention to the good or right things your child does and says.

You should, of course, always love your child unconditionally, but you should only express that love at times which are most beneficial to your child.

You should at all times be a model of a good and right human being (Muslim) for your child.


bismillaahir rahmaanir rahiim

EFFECTIVE ISLAMIC PARENTING (Read each morning!!!)

I am raising my child to be a successful vicegerent (khalifah) of Allah, who will help create a truly Islamic World.

Today I will try my best to know and understand all the influences upon my child's development.

Today I will try my best to help my child understand the power of negative influences to take him/her away from Allah, and the power of positive influences to take him/her to Allah.

Today I will try my best to shield my child from the power of the negative influences to take him/her away from Allah.

Today I will try my best to enhance (increase) the power of the positive influences upon my child to take him/her toward llah.

Today I will try my best to notice some positive things my child does or says, and tell him/her how much those things are appreciated by me and by Allah.

Today I will try my best to say nothing negative to my child. Even if I have to correct my child's wrong behaviour I will try my best to find some positive way to do so.

Today I will love my child unconditionally, but I will try my best to express that love at times which are most beneficial to my child.

Today I will try my best to be an example of a good and right human being (Muslim) for my child.

Today I will pray for Allah's help that I can be a good parent for my child.
Read More..